Lemhannas RI Kaji Reaktualisasi Nilai Pancasila pada Generasi Muda
Berita & Artikel Rabu, 25 Februari 2026, 10:00
“Tema ini menjadi penting karena struktur demografi saat ini kecenderungan komposisinya didominasi generasi muda,” kata Gubernur Lemhannas RI Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si. Hal tersebut disampaikan saat membuka Rapat Penyusunan Rekomendasi Urgen dan Cepat Ditjian Ideologi dan Politik Deputi Bidang Pengkajian Strategik Lemhannas RI pada Rabu (25/2). Rapat Penyusunan Rekomendasi tersebut mengangkat judul “Reaktualisasi Nilai Pancasila pada Generasi Muda Guna Memperkuat Ideologi dan Nilai Kebangsaan dalam rangka Menjaga Ketahanan Nasional.
Menyoroti struktur demografi yang didominasi generasi muda, Gubernur Lemhannas RI memandang bahwa diperlukan pendekatan khusus dalam reaktualisasi nilai-nilai Pancasila. Lebih lanjut, Gubernur Lemhannas RI juga memandang bahwa disrupsi teknologi yang begitu cepat menjadikan generasi muda menjadi generasi digital native. Hal tersebut tentu memberikan dampak dalam konteks bagaimana generasi muda memahami kebangsaan. “Dalam kaitan memperkuat nilai-nilai kebangsaan, terutama dalam nilai-nilai Pancasila, kita tidak bisa lagi pendekatannya seperti era-era sebelumnya,” ucap Gubernur Lemhannas RI. Diharapkan melalui diskusi tersebut dapat dirumuskan pendekatan terhadap reaktualisasi nilai Pancasila yang relevan dengan karakter generasi muda dan dinamika zaman.
Hadir sebagai narasumber dalam kesempatan tersebut, yakni Direktur Pengukuhan Pelembagaan Pancasila BPIP Bapak Hotrun Siregar, S.Sos., M.Si.; Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Prof. Burhanuddin Muhtadi, M.A., Ph.D.; Sekretaris Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen Dr. Muhammad Yusro, S.Pd., M.T.; Direktur Penelitian Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah Dr. Yunita Faela Nisa, M.Psi.; dan Direktur Eksekutif Youth Laboratory Indohnesia Dr. Muhammad Faisal.
“Kita menghadapi situasi di mana Pancasila kuat sebagai simbol, namun belum sepenuhnya kuat sebagai habituasi sosial,” kata Direktur Pengukuhan Pelembagaan Pancasila BPIP Bapak Hotrun Siregar, S.Sos., M.Si. dalam kesempatan tersebut, Direktur Pengukuhan Pelembagaan Pancasila BPIP menyampaikan empat langkah urgen dan cepat dalam rangka reaktualisasi Pancasila pada generasi muda. Pertama, penguatan internalisasi berbasis ekosistem digital, yakni melalui produksi narasi Pancasila pada platform digital; kolaborasi dengan kamus dan komunitas kreator; serta berbasis praktik bukan hanya wacana. Kedua, integrasi Indeks Aktualisasi Pancasila dalam perencanaan kebijakan, yaitu melalui sinkronisasi pusat dan daerah; monitoring berbasis data; dan menjadikan Indeks Aktualisasi Pancasila sebagai indikator evaluasi kinerja dan dasar pembuatan kebijakan. Ketiga, revitalisasi ruang partisipasi generasi muda melalui penguatan organisasi kemahasiswaan dan komunitas; forum deliberatif lintas kelompok; apresiasi bagi praktik baik aktualisasi nilai. Keempat, penguatan dimensi keadilan sosial, melalui penyediaan akses inklusif bagi kelompok rentan; dukungan ekonomi kreatif dan desa; serta program afirmatif berbasis data Indeks Aktualisasi Pancasila.
Menurut Direktur Pengukuhan Pelembagaan Pancasila BPIP, sejauh mana nilai-nilai Pancasila terinternalisasi dalam generasi muda akan memengaruhi apakah bonus demografi yang dimiliki hari ini akan menjadi kekuatan atau kerentanan. “Reaktualisasi Pancasila bukan agenda seremonial, melainkan investasi jangka panjang bagi ketahanan nasional,” pungkas Direktur Pengukuhan Pelembagaan Pancasila BPIP.
Sejalan dengan Direktur Pengukuhan Pelembagaan Pancasila BPIP, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Prof. Burhanuddin Muhtadi, M.A., Ph.D. memandang bahwa perlu dilakukan reaktualisasi pendidikan Pancasila terhadap generasi muda yang pendekatannya relevan dengan ketertarikan anak muda masa kini. “Pendekatannya tidak bisa satu arah, kita harus pakai media dan narasi yang sesuai dengan apa yang diinginkan anak muda,” kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia.
Lebih lanjut, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia menyampaikan bahwa Generasi Muda yang dikenal dengan Gen Z cenderung memiliki kekhawatiran yang tinggi terhadap isu-isu seperti korupsi, kerusakan lingkungan, kesehatan, perpecahan, dan ketimpangan. Narasi reaktualisasi nilai Pancasila akan lebih mudah menyasar generasi muda jika dikaitkan dengan isu-isu yang dinilai penting tersebut. Misalnya, reaktualisasi nilai butir ke-3 Pancasila tentang persatuan Indonesia dapat dikaitkan dengan isu perpecahan. Kemudian reaktualisasi nilai butir ke-5 Pancasila tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dapat disesuaikan dengan isu ketimpangan. “Narasinya harus disesuaikan dengan isu-isu yang dinilai penting oleh generasi muda,” pungkas Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia. (NA/CHP)


