Lemhannas RI Menerima Kunjungan Daniel K. Inouye Asia-Pacific Center of Security Studies (DKI APCSS) Delegations
Berita & Artikel Selasa, 24 Februari 2026, 16:00
Lemhannas RI Menerima Kunjungan Delegasi Daniel K. Inouye Asia-Pacific Center for Security Studies (DKI APCSS) di Ruang Nusantara 2, Gedung Tri Gatra Lemhannas RI pada Selasa (24/2). Kunjungan DKI APCSS ke Lemhannas RI dipimpin langsung oleh Deputy Director DKI APCSS Col (Ret.) Russell Bailey.
Tenaga Profesional Bidang Geopolitik Lemhannas RI, Edy Prasetyono, S.Sos., MIS., Ph.D. menyambut langsung kunjungan tersebut. Kunjungan tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkuat dialog keamanan kawasan Indo-Pasifik di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Dalam sesi pengantar, Russel Bailey menyampaikan apresiasi atas sambutan Lemhannas RI sekaligus menegaskan komitmen untuk memperluas kerja sama dialog strategis. Pihak delegasi menekankan pentingnya pertukaran perspektif dalam menghadapi tantangan keamanan kontemporer, termasuk implikasi migrasi, dinamika aliansi, serta perubahan lanskap politik global. “Kami ingin membangun diskusi yang terbuka, saling menghormati, dan berbasis kepercayaan. America First tidak berarti America Alone,” ujar perwakilan DKI APCSS. Dia menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap memandang kemitraan sebagai elemen penting stabilitas kawasan.
Lebih lanjut, Lemhannas RI menayangkan video profil institusi yang memperkenalkan visi, misi, serta peran strategisnya dalam menyiapkan dan memantapkan pimpinan nasional. Lemhannas RI menyelenggarakan program pendidikan reguler dan singkat bagi perwira tinggi TNI, Polri, serta pejabat kementerian dan lembaga. Selain itu, Lemhannas juga menjalankan kajian strategis nasional, regional, dan internasional, dengan fokus pada isu konsolidasi demokrasi, ekonomi hijau, transformasi digital, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan. Melalui dialog kebangsaan, pelatihan pengajar, hingga studi strategis dalam dan luar negeri, Lemhannas berperan sebagai pusat pemikiran strategis guna membentuk Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong.
Dalam paparan mengenai lingkungan keamanan kawasan, Edy Prasetyono menjelaskan tiga karakter utama dinamika regional saat ini, yakni rivalitas kekuatan besar (great power rivalry), perlombaan senjata (arms race), serta dinamika intra-kawasan yang semakin kompleks. Dia menambahkan bahwa terdapat sejumlah perkembangan intervening yang mempercepat perubahan, seperti munculnya berbagai pengaturan keamanan baru, memudarnya norma penggunaan kekuatan militer, meningkatnya pertanyaan mengenai peran Tiongkok, hingga praktik weaponizing trade atau penggunaan instrumen perdagangan sebagai alat tekanan politik. Selain itu, Edy Prasetyono juga menyoroti kecenderungan melemahnya institusi global serta ketidakpastian arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat, apakah lebih menekankan kesetaraan resiprokal atau pendekatan unilateral dan transaksional, serta berbasis nilai atau pragmatisme.
Menanggapi hal tersebut, delegasi DKI APCSS menyampaikan bahwa pendekatan kebijakan Amerika Serikat saat ini dilandasi rasa urgensi terhadap lingkungan keamanan yang dinilai semakin berbahaya. Menurut mereka, beban keamanan kawasan selama ini relatif lebih besar ditanggung Amerika Serikat dibanding sebagian mitra, sehingga muncul dorongan untuk membangun hubungan yang lebih setara dan adil. Mereka menegaskan bahwa meskipun pendekatan yang diambil terkesan pragmatis, tujuannya adalah memperkuat efektivitas kemitraan dan mendorong kontribusi yang lebih proporsional dari sekutu dan mitra.
Diskusi berkembang pada pertanyaan mendasar tentang arah pergerakan dunia ke depan, yakni menuju sistem berbasis nilai (values-based order) atau sistem yang semakin terfragmentasi dan pragmatis. Pihak Lemhannas RI menyoroti bahwa negara-negara di kawasan kini menghadapi dilema antara resist atau deal, serta berupaya meminimalkan risiko melalui pola hubungan baru dan rencana kontingensi, termasuk penguatan pengaturan regional.
Dialog berlangsung terbuka dan konstruktif. Kedua pihak sepakat bahwa di tengah rivalitas kekuatan besar dan ketidakpastian global, ruang komunikasi strategis harus terus dijaga. Bagi DKI APCSS, kemitraan dengan lembaga pendidikan strategis seperti Lemhannas RI penting untuk memperkaya perspektif dan memperkuat jejaring keamanan kawasan. Sementara bagi Lemhannas RI, pertukaran pandangan ini menjadi bagian dari upaya memperdalam pemahaman terhadap dinamika geopolitik global demi kepentingan nasional Indonesia.
Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga cerminan bahwa stabilitas kawasan Indo-Pasifik membutuhkan dialog yang jujur, saling menghormati, dan berbasis kepentingan bersama. Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian, kerja sama dan komunikasi strategis tetap menjadi kunci menjaga keseimbangan dan ketahanan kawasan. (ZA/CHP)







