Audiensi Lemhannas RI dengan Center for a New American Security
Berita & Artikel Selasa, 14 Juni 2022, 09:18
Direktur Pengkajian Ideologi dan Politik (Dirjian Idepol) Deputi Bidang Pengkajian Strategik (Debidjianstrat) Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) Drs. Berlian Helmy, M.Ec. menerima audiensi Center for a New American Security (CNAS) di Gedung Astagatra Lemhannas RI, Jakarta pada Selasa (14/06). Hadir dari CNAS Senior Fellow and Director of the Indo-Pacific Security Lisa Curtis dan Associate Fellow for the Indo-Pacific Security Program Joshua L. Fitt.
Kedatangan mereka bertujuan untuk membahas kerja sama penelitian Belt and Road Initiative (BRI) Tiongkok. Kami di sini untuk proyek penelitian kerja sama transatlantik BRI Tiongkok. Kami juga tertarik dengan hubungan Amerika Serikat-Indonesia yang lebih dalam karena kami mengerjakan banyak proyek tentang Asia Tenggara di program kami sehingga kami sangat tertarik untuk bertemu dengan Anda dan mendengar pendapat-pendapat Anda, tutur Curtis.
Dirjian Idepol Debidjianstrat Lemhannas RI menyambut baik kedatangan Curtis dan Fitt dan menjelaskan cakupan kerjanya yaitu pada bidang geopolitik, ideologi nasional, serta politik dalam negeri. Saya diplomat yang ditugaskan untuk membantu Lemhannas di bidang geopolitik, ujar Berlian memperkenalkan dirinya.
Lebih lanjut, Berlian menjelaskan mengenai Lemhannas RI. Lemhannas RI merupakan Lembaga think tank yang memberikan rekomendasi kebijakan langsung kepada Presiden RI. Dinamika eksternal dan lingkungan selalu berubah, sehingga kami harus menganalisis sejauh mana cakupan perubahan geopolitik saat ini, kata Dirjian Idepol Lemhannas RI.
Selanjutnya Curtis menanyakan persepsi Indonesia mengenai kebijakan BRI Tiongkok. Menjawab pertanyaan tersebut, Berlian menjelaskan pada era kepemimpinan Presiden Joko Widodo filosofi kebijakan luar negeri lebih fokus ke gravitasi maritim karena Indonesia secara geografis berada di posisi kepulauan yang strategis. Kebijakan luar negeri Indonesia bersifat terbuka, inklusif, transparan, adil, serta bebas. Sifat-sifat tersebut merefleksikan modal filosofis kebijakan luar negeri Indonesia, yakni bebas aktif dan ingin berperan aktif dan dinamis pada arsitektur regional.
Berlian mengatakan BRI Tiongkok merupakan perantara yang mengubah sistem global Indonesia untuk menghubungkan platform multilayer seperti Indo-Pasifik dan Asia-Pasifik. Dengan BRI yang digabungkan dengan program global kami, adalah sebagai modal untuk memperkuat arsitektur regional. Selanjutnya dari sisi tautan interregional pada hubungan multidimensi. Dengan BRI dan GMF (Garuda Maintenance Facility), semua akan berjalan semakin pesat dan hubungan antarpihak semakin mudah, itulah perspektif Indonesia mengenai BRI Tiongkok, kata Berlian.
Dirjian Idepol Lemhannas RI menyampaikan bahwa lebih lanjut Indonesia perlu membangun ulang konsep arsitektur regional dengan melibatkan forum interregional seperti Asia-Europe Meeting (ASEM) dan East Asia Summit (EAS). Ia mengatakan saat ini Indonesia sedang mendesain forum global dengan konsep inklusif, transparan, terbuka, dan partisipatif. Di masa depan, saya ragu G20 akan tetap seperti sekarang, pasti akan mengalami perubahan yang drastis sehingga kita harus menjaga G20 dengan konsep geopolitik. Makanya Indonesia ingin berperan aktif dalam mendesain ulang tatanan global dengan filosofi tersebut, pungkas Berlian. (SP/CL)



