Gubernur Lemhannas RI Beri Ceramah Geopolitik kepada Peserta PPRA 65
Berita & Artikel Selasa, 18 April 2023, 02:16
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) Andi Widjajanto memberikan ceramah hubungan internasional dan geopolitik kepada Peserta Program Reguler Angkatan (PPRA) 65 bertempat di Ruang NKRI, Gedung Pancagatra, pada Selasa (18/4).
Ada tiga bahasan yang Gubernur Lemhannas RI sampaikan kepada peserta PPRA 65. Pertama, Gubernur Lemhannas RI memaparkan perkembangan global terkini. Kedua, meminta peserta berkelompok untuk diskusi mencari strategic relief dalam hubungan internasional. Ketiga adalah bagaimana menemukan cara untuk bisa membuat perdamaian dunia dari perkembangan terkini.
Gubernur Lemhannas RI mengawali paparannya dengan menyampaikan kompetisi geopolitik tentang anggaran pertahanan negara-negara di dunia. Amerika Serikat mendominasi proporsi anggaran pertahanan dunia. Namun, Tiongkok konsisten mengejar dengan menunjukkan tren peningkatan anggaran pertahanan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dari aspek kapasitas persenjataan, Amerika Serikat menjadi kekuatan utama dunia. Namun, Tiongkok mampu unggul di beberapa segmen, seperti artileri dan kapal perang pesisir. Posisi Indonesia sendiri relatif belum optimal. Berdasarkan triangulasi determinan dinamika persenjataan, Indonesia masih berada di fase pemeliharaan senjata.
Kompetisi antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga tercermin di sektor ekonomi. Saat ini, produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat masih menjadi nomor satu di dunia. Tiongkok mengejar di peringkat kedua dengan laju pertumbuhan yang cukup masif. Kedua negara juga berlomba-lomba memperkuat pengaruhnya melalui berbagai institusi internasional.
Dengan kompetisi global seperti ini, Gubernur Lemhannas RI melemparkan pertanyaan kepada peserta mengenai bagaimana menciptakan perdamaian global.
Tentang lanskap geoekonomi ASEAN, IMF memproyeksikan Asia Tenggara mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5% pada 2022 dan 4,6% pada 2023 oleh. Angka tersebut menjadikan ini sebagai salah satu kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi.
Selanjutnya hasil penilaian terhadap Indeks Kerja Sama dan Integrasi Kawasan Asia-Pasifik (ARCII) menunjukkan bahwa kawasan ini mampu memanfaatkan momentum ketidakpastian di tengah pandemi sebagai titik balik untuk meningkatkan kapasitas digital dan meningkatkan kerja sama regional. Dalam hal ini, Asia Tenggara menjadi sub-kawasan yang turut memperoleh nilai baik, sejalan dengan ekspansi transaksi digital yang berlangsung.
Lebih lanjut, Gubernur Lemhannas RI menyampaikan materi yang menjadi topik utama peserta PPRA 65 saat ini, yakni konektivitas global. Hari ini kita melihat beberapa mega project, global connectivity, kata Gubernur Lemhannas RI.
Persaingan konektivitas menjadi karakteristik tarung kekuatan utama di era Geo V. Di Asia, persaingan konektivitas terjadi antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Tiongkok menginisiasi kerja sama pembangunan infrastruktur Belt and Road Initiative (BRI), lalu Amerika Serikat tengah mendorong Indo-Pacific Economic Framework yang bertujuan menciptakan soliditas ekonomi melalui reformasi struktural.
Di Eropa, Rusia menginisiasi North-South Transport Corridor (INSTC) untuk memenuhi kebutuhan logistiknya. Gagasan ini bersinggungan dengan Transportation Corridor Europe Caucasus Asia (TRACECA) milik Uni Eropa. Singgungan ini berpotensi menciptakan gesekan geopolitik di kawasan.
Kompetisi global tidak berhenti sampai di situ. Kompetisi teknologi juga terjadi pada tatanan global. Sektor teknologi menjadi arena pertempuran antarnegara adidaya. Tiongkok mengalami perkembangan pesat dalam penguasaan teknologi. Hal ini dibuktikan dari keunggulan kapasitas teknologi 5G dan tren penguasaan produksi semikonduktor. Sedangkan Amerika Serikat berusaha membuat hambatan-hambatan supaya Tiongkok tidak bertindak cepat dalam produksi semikonduktor.
Kemudian, Gubernur Lemhannas RI melanjutkan ceramah dengan menyampaikan tentang strategic relief. Pertama, ada kelompok yang tujuannya antara lain kesejahteraan, keadilan global, kesetaraan global, dan kesetaraan gender. Namun, hal tersebut bisa dicapainya dalam jangka waktu yang sangat panjang.
Kedua, ada kelompok idealism yang dibagi menjadi dua. Pertama, ada classical liberalism yang sangat mementingkan perdagangan bebas, pertumbuhan ekonomi, dll. Kedua, ada neoliberalism institutionalism yang tujuannya antara lain kerja sama internasional, demokrasi, serta diplomasi. Tujuan neoliberalism institutionalism adalah mengandalkan peran institusi global untuk membereskan pasar yang rusak.
Lalu ketiga, ada kelompok realism. Kelompok realism dianggap dapat menawarkan cara-cara agar dunia tidak berperang. Kata paling pas ketika menggunakan kata realism adalah dunia yang stabil, tutur Gubernur Lemhannas RI.
Gubernur Lemhannas RI menekankan realism kepada peserta PPRA 65 yang mayoritas sektor pekerjaannya pada bidang pertahanan, keamanan, dan intelijen yang berpikir tentang geopolitik, worst scenario, dan krisis. Untuk itu, pendekatan ini harus yang menjadi inti karena sifatnya pragmatis, bukan menciptakan perdamaian melainkan menyelesaikan simtom kekerasan serta mencegah eskalasi konflik berubah menjadi perang. (SP/CL)






