RTD Lemhannas RI bahas Konsolidasi Tim Pokja Labkurtannas dan Perumusan Isu Strategis 2017
Berita & Artikel Rabu, 25 Januari 2017, 03:06
RTD ini diawali dengan laporan Ketua Labkurtannas Prof. Miyasto. Dalam Laporannya, Prof. Miyasto menjelaskan mengenai tugas dan fungsi Labkurtannas serta data-data yang harua diukur untuk mendapatkan indeks ketahanan nasional yang menunjukkan potret ketahanan nasional. Dengan adanya potret ketahanan nasional tersebut, lanjut Prof. Miyasto, dapat dirumuskan isu-isu strategis yang menonjol. Isu-isu strategis tersebut adalah menurunnya Nilai-Nilai kebangsaan dan toleransi, sinergi kebijakan antar sektor dan antara pusat dan daerah, pelayanan birokrasi,infrastruktur wilayah, ketahanan pangan, energi, dan air bersih, pengangguran dan beberapa isu lainnya.
Dalam sambutannya, Agus Widjojo menyebutkan bahwa pada tahun 2016 ini, indeks ketahanan nasional Indonesia cenderung meningkat dibandingkan dengan indeks ketahanan nasional di tahun 2015. Namun Agus Widjojo menjelaskan bahwa terdapat isu-isu yang patut diwaspadai yaitu dalam tiga tahun terkahir terdapat kecenderungan penurunan indeks ketahanan nasional pada gatra ideologi, gatra politik mengalami kenaikan namun posisinya masih kurang tangguh, situasi ekonomi Indonesia masih sangat rentan terhadap perubahan ekonomi dunia, tingginya tingkat pengangguran dan ketimpangan sosial , ketimpangan kesejahteraan antar wilayah, gatra sosial budaya yang juga mengalami penurunan.
Hal yang dikemukakan oleh Agus Widjojo juga selaras dengan yang diungkapkan oleh narasumber dalam RDP tersebut. Mantan Kepala Badan Informasi Geospasial Dr. Asep karsidi, M.Sc. selaku narasumber pertama mengungkapkan bahwa di Indonesia terdapat banyak keberagaman. Untuk menyikapi hal tersebut, Indonesia harus meningkatkan kewaspadaan.
Narasumber kedua Prof. Dr. Ir. Rina Oktaviani, M.S., Direktur Internasional Trade Analysis and Policy Studies FEM IPB menyebutkan bahwa untuk meningkatkan indeks ketahanan nasional Indonesia diperlukan aspek-aspek Internasional. Dalam bidang ekonomi, ketahanan pangan menjadi faktor penting untuk meningkatkan ekonomi Indonesia. selain itu, Rina Oktaviani juga menyebutkan bahwa Indonesia harus mampu meningkatkan daya saing di ASEAN namun tetap fokus dengan keadaan ekonomi Indonesia.
Mengenai tingkat pengangguran, Sri Soelistyowati dari Badan Pusat Statistik mengatakan bahwa Indonesia akan mendapatkan bonus demografi hingga tahun 2030 dan hal tersebut harus dimanfaatkan dengan baik karena setelah tahun 2030, Indonesia tidak akan mendapatkan bonus demografi. Selain itu, Sri Soelistyowati juga menegaskan bahwa perekonomian Indonesia yang cenderung meningkat tidak berbanding lurus dengan tingkat pengangguran. Maka dari itu, Indonesia harus mengupayakan untuk terus meningkatkan ekonomi Indonesia yang juga memberikan dampak positif terhadap tingkat pengangguran dengan adanya bonus demografi yang berlangsung dalam rentan waktu yang singkat.
Di sisi gatra ideologi dan politik, Dr. Ichsan Malik menyebutkan bahwa saat ini di Indonesia sedang terjadi beberapa fenomena yang mempengaruhi menurunnya dua gatra tersebut. Fenomena tersebut adalah saat ini hampir semua kelompok masyarakat sedang merasa terancam. Hal tersebut menyebabkan intoleransi antar kelompok masyarakat. Selain itu, semua kelompok masyarakat merasa dalam posisi tidak adil dan juga adanya stereotype dan prasangka antar kelompok masyarakat. Fenomena tersebut harus segera diatasi dengan cara rekonsiliasi dan membangun rasa percaya antar kelompok sehingga tercipta kebersamaan.
Routable Discussion ini kemudian dilanjutkan dengan tanggapan dari para Deputi Lemhannas RI dan juga peserta rapat serta diskusi mendalam mengenai isu-isu strategis tahun 2017.
Hadir dalam diskusi tersebut adalah Wakil Gubernur Lemhannas RI Marsdya TNI Bagus Puruhito, S.E., M.M., para Deputi, Tenaga Profesional, Tenaga Pengajar, Tenaga Pengkaji, dan tamu undangan.






