Politik Luar Negeri Indonesia di Tengah Tantangan Global

Berita & Artikel Senin, 31 Juli 2017, 03:13

Ceramah tersebut membahas mengenai bagaimana politik Indonesia di luar negeri khususnya pada negara-negara yang sedang berkonflik dan akan memiliki dampak terhadap Indonesia. Dalam ceramahnya, Retno Marsudi menyampaikan empat prioritas politik Indonesia di luar negeri yaitu, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Perlindungan WNI, diplomasi ekonomi, serta peran regional dan global Indonesia.

Selain itu, Retno Marsudi juga menjelaskan mengenai diplomasi yang dilakukan Indonesia di dunia internasional untuk terus berupaya memberikan kontribusi dalam penyelesaian permasalahan konflik, baik pada lingkup regional maupun global. Menurutnya, sikap Indonesia dalam pergaulan dunia internasional tersebut merupakan mandat konstitusi mengenai perdamaian dan ketertiban dunia yang tercantum di Alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945.

Selain alasan perdamaian, perlindungan WNI juga menjadi salah satu latar belakangkenapa Indonesia sangat aktif pada politik luar negeri. Menurut Retno Marsudi, ketika terjadi konflik diplomasi dengan negara lain, maka yang akan terkena dampak secara langsung adalah warga negara Indonesia.

Retno Marsudi juga mengatakan, Kementerian Luar Negeri RI yang ia pimpin telah melakukan reformasi yang signifikan di bidang pelayanan sehingga semua pelayanan dapat dilakukan dengan cepat, tepat, dan transparan. Selain itu, menurutnya, permasalahan harus dibenahi dari hulu hingga hilir, sebagaimana terjadi pada masalah penempatan tenaga kerja Indonesia. Dalam menyelesaikan suatu masalah, jangan sampai kemudian membuat masalah lain. Kami menyelesaikan masalah dengan hati-hati dan harus bisa menyiasati agar tidak terjadi masalah yang lebih pelik lagi, tegas Retno Marsudi.

Menyinggung meningkatnya ancaman terorisme, menurut Retno Marsudi, adalah akibat perubahan metode perekrutan teroris yang dulu masih bersifat konvergen dalam artian mereka mengumpulkan orang-orang untuk di latih lalu melakukan aksi terorisme, namun sekarang berubah menjadi bersifat divergen dimana mereka menyebarkan orang-orang yang sudah dilatih kembali ke negara asalnya dan melakukan aksi terorisme secara tidak struktur. Diakhir, Peserta PPRA LVI Lemhannas RI melakukan diskusi dan tanya jawab.


Tag