Geopolitik Dunia Kian Bergejolak, Gubernur Lemhannas Tegaskan Ketahanan Nasional Dimulai dari Ketahanan Daerah

15 Juli 2026

Press Release

Nomor  : PR / 48 / VII /2026

Tanggal: 15 Juli 2026

Jakarta – Ketahanan nasional Indonesia di tengah gejolak geopolitik global yang kian tidak menentu sangat bergantung pada kekuatan ketahanan di tingkat daerah. Hal tersebut ditegaskan Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., saat memberikan pembekalan pada pembukaan Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) Angkatan III Tahun 2026 di Ruang Purnomo Yusgiantoro, Lemhannas RI, pada Rabu (15/7).

 

“Kalau ketahanan daerahnya kokoh, kuat, tangguh, maka ketahanan nasional akan tangguh juga,” ujar Ace.

 

Dalam paparannya bertajuk “Dinamika Geopolitik Global dan Ketahanan Nasional”, Ace menjelaskan bahwa lanskap geopolitik global saat ini berubah sangat cepat, sulit diprediksi, dan memengaruhi hampir seluruh negara.

 

Ia mengutip pandangan pakar geopolitik Thomas Friedman bahwa “geopolitic is all about leverage”, serta pemikiran Samuel Huntington yang menyebut kepentingan nasional berawal dari identitas nasional. Menurutnya, dunia kini tidak lagi didominasi tunggal oleh Amerika Serikat, melainkan diperebutkan tiga kekuatan besar, yakni Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok, sementara Indonesia berada pada posisi middle power bersama Jepang dan Korea Selatan. “Tidak ada satu negara yang tidak terdampak akibat dari pertarungan geopolitik,” tegasnya.

 

Dampak nyata dari pertarungan geopolitik itu, lanjut Ace, dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari perang tarif yang berdampak pada industri tekstil di Jawa Barat, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah yang membebani subsidi bahan bakar minyak dalam APBN, hingga terganggunya rantai pasok global.

Ia mencatat setidaknya 130 titik konflik bersenjata terjadi di dunia saat ini, mulai dari Rusia-Ukraina hingga potensi ketegangan di kawasan Laut Tiongkok Selatan yang dapat memengaruhi stabilitas kawasan meski Indonesia tidak berbatasan langsung dengan wilayah tersebut. Ancaman perubahan iklim turut menjadi perhatian, dengan datangnya fenomena El Nino yang diperkirakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memicu musim kemarau yang lebih panas dan kering dari biasanya.

 

Selain tantangan geopolitik dan geoekonomi, Ace menyoroti disrupsi teknologi, khususnya kecerdasan buatan (artificial intelligence), sebagai peluang sekaligus tantangan. Ia mengingatkan bahwa algoritma kecerdasan buatan tidak bebas nilai dan dapat memengaruhi cara pandang masyarakat apabila tidak diimbangi literasi digital yang memadai, termasuk dalam mengantisipasi peredaran informasi yang belum tentu benar.

 

Kondisi ini menurutnya perlu menjadi perhatian khusus para kepala daerah, mengingat struktur demografi Indonesia saat ini didominasi generasi digital native, dengan populasi Milenial 68 juta jiwa, Generasi Z mencapai 75 juta jiwa, dan Generasi Alpha 55 juta jiwa.

 

Di sisi lain, Ace turut mengingatkan sejumlah tantangan di dalam negeri yang perlu segera dibenahi, mulai dari kualitas sumber daya manusia, tingkat korupsi, hingga iklim investasi yang belum kompetitif dibandingkan negara-negara ASEAN lain, tecermin dari Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang masih berada di angka 6,33 persen, sementara Vietnam sudah mencapai 4,6 persen.

 

Ia turut mengutip pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai kebocoran kekayaan negara akibat berbagai praktik seperti judi online hingga penambangan ilegal, serta pentingnya penguatan sumber daya manusia unggul, termasuk melalui program makan bergizi gratis untuk mengatasi persoalan stunting yang menjadi salah satu penyebab rendahnya kualitas SDM Indonesia.

 

Berdasarkan perhitungan Lemhannas RI, Indeks Ketahanan Nasional Indonesia tahun 2025 berada pada skor 2,92 dari skala 0-5, dengan gatra sosial budaya menjadi yang paling rendah, yakni 2,66. Ace menegaskan bahwa capaian ini menjadi pekerjaan rumah bersama, khususnya dalam mendukung strategi Asta Cita yang dicanangkan pemerintah menuju Indonesia Emas 2045.

 

Ia mengajak seluruh kepala daerah peserta KPPD Angkatan III untuk berperan sebagai pemimpin nasional yang berkarakter negarawan, visioner, serta transformatif dan adaptif dalam menjalankan roda pemerintahan di daerah masing-masing.

 

Mengakhiri paparannya, Ace berpesan agar bangsa Indonesia tetap optimistis di tengah tantangan global yang ada. “Sebuah bangsa dan negara yang tangguh bukanlah bangsa yang tak pernah goyah. Melainkan bagaimana kita bisa beradaptasi, bertransformasi dalam menghadapi goncangan tersebut,” tutup Ace.

 

Pada pembekalan tersebut, Gubernur Lemhannas RI didampingi oleh Wakil Gubernur Lemhannas RI, Laksdya TNI Erwin S. Aldedharma; Deputi Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan, Mayjen TNI Raden Djaenudin Slamet, S.E.; Tenaga Ahli Profesional Bidang Sumber Kekayaan Alam Lemhannas RI Prof. Dr. Ir. Dadan Umar Daihani, D.E.A.; serta penanggung jawab kegiatan Marsma TNI Tri Bowo Setyo C., S.Sos., M.M..

 

Selain Gubernur Lemhannas, para peserta juga mendapat pembekalan dari Ketua PYC, Prof. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.Sc., MA, Ph.D., IPU; Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus; Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Ibnu Basuki Widodo; dan para tenaga profesional Lemhannas RI.

 

Kepala Biro Humas Settama Lemhannas RI

Brigjen TNI Muhammad Arif Nur

 

Biro Humas Lemhannas RI

Jalan Medan Merdeka Selatan 10, Jakarta 10110

Telp. 021-3832108/09

http://www.lemhannas.go.id

Instagram: @lemhannas_ri

Facebook: lembagaketahanannasionalri

Twitter: @LemhannasRI

TikTok: @lemhannas_ri