JGF X Lemhannas RI Sesi Pleno 2 Bahas Persaingan Kekuasaan Energi Hijau, Sistem Keuangan, dan Perdagangan Internasional

Berita & Artikel Kamis, 9 Juli 2026, 10:00

Sesi Pleno ke-2 Jakarta Geopolitical Forum (JGF) X Lemhannas RI yang diselenggarakan di Hotel Bidakara, Auditorium Binakarna, Jakarta pada Kamis (9/7) menghadirkan beberapa pembicara, yakni Wakil Menteri Perdagangan RI Dyah Roro Esti Widya Putri, Head of Asia-Pacific, Global Head of Central Bank, World Gold Council Shaokai Fan, MPA, Managing Director World Resource Institute (WRI) Indonesia Arief Wijaya, dan Energy, Mining & Business Development Expert, Vice Chairman of Djakarta Mining Club Ben Lawson, Ph.D.

Sesi pleno diawali dengan special remark yang disampaikan oleh Dyah Roro. Pada kesempatan tersebut, Dyah Roro menyampaikan paparannya dengan tema “Rebalancing Power Through Trade: Tariffs and Strategic Competition in an Era of Economic Slowdown”.

Dyah Roro mengatakan ekonomi global sedang mengalami transformasi mendalam. Perdagangan tidak lagi dipandang semata-mata melalui kacamata efisiensi dan akses pasar, namun berkaitan erat dengan keamanan nasional, kepemimpinan teknologi, kebijakan industri, serta pengaruh geopolitik. Langkah-langkah perdagangan, seperti tarif, kontrol ekspor, dan sanksi kini digunakan tidak hanya sebagai instrumen ekonomi, tetapi juga sebagai alat strategis.

Disampaikan oleh Dyah Roro bahwa negara-negara berkembang dituntut untuk mengarungi dunia serta menghadapi tuntutan pada keterbukaan dan ketahanan yang harus berjalan beriringan. Bagi Indonesia, perdagangan harus tetap menjadi jembatan, bukan sebagai medan pertempuran. “Oleh karena itu, tugas di hadapan kita bukanlah untuk menolak globalisasi, melainkan menjadikannya lebih adil, lebih inklusif, lebih tangguh, dan lebih responsif terhadap realitas hari ini,” ujar Dyah Roro.

Lebih lanjut, mengutip data dari World Bank, Dyah Roro menyampaikan bahwa negara-negara berkembang diproyeksikan akan menyumbang sekitar 45% terhadap produk domestik bruto (PDB) global pada tahun 2026. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan pada tahun 2000 yang hanya mencapai 25%.

Pergeseran tersebut pada dasarnya mencerminkan peran negara-negara berkembang dalam membentuk masa depan pertumbuhan, perdagangan, dan investasi global menjadi semakin penting. Bagi kekuatan menengah (middle powers) seperti Indonesia, transformasi tersebut membawa tanggung jawab yang penting karena kekuatan menengah dapat membentuk hasil (shape outcomes) dengan membangun hubungan, menumbuhkan kepercayaan, dan menawarkan solusi praktis.

Dyah Roro melanjutkan, pendekatan Indonesia didasarkan pada fleksibilitas strategis, kemitraan yang terdiversifikasi dan keterlibatan ekonomi dalam menghadapi dinamika global. Menurutnya, Indonesia harus terus menjunjung tinggi sentralitas ASEAN sebagai fondasi bagi perdamaian, stabilitas, dan integrasi ekonomi regional, lalu menjalankan diplomasi ekonomi yang terbuka dan inklusif, lalu memperkuat daya saing domestik melalui peningkatan kapasitas industri, hilirisasi industri bernilai tambah, transformasi digital, serta membangun rantai pasok yang tangguh.

Di era persaingan strategis yang semakin kompleks, Dyah Roro menegaskan pentingnya bagi Indonesia untuk memastikan tata kelola ekonomi global tetap efektif melalui institusi-institusi dunia, seperti World Trade Organization (WTO), International Monetary Fund (IMF), dan World Bank yang selama puluhan tahun telah berkontribusi secara signifikan terhadap stabilitas ekonomi global.

Acara dilanjutkan dengan paparan narasumber yang dimoderatori oleh Tenaga Profesional Bidang Ekonomi Lemhannas RI Prof. Dr. Telisa Aulia Falianty S.E, M.E. Shaokai Fan menyampaikan paparannya yang mengangkat tema “Currency Competition in Transition: De-dollarisation, Gold, Digital Money, and the Future of Global Trade and Regional Cooperation”.

Mengawali paparannya, Shaokai Fan menyampaikan permintaan terhadap emas menunjukkan tren yang cukup kuat dan tersebar luas. Sekitar 70% dari total permintaan emas berasal dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa negara-negara berkembang seperti Indonesia telah berkembang menjadi bagian yang sangat penting dari pasar emas.

Lebih lanjut, Shaokai Fan membahas tentang pasokan emas yang tersebar luas secara geografis dan tingginya permintaan. Hal tersebut didasari dua alasan, pertama karena penambangan emas dilakukan seluruh benua, kecuali Antartika. Kondisi tersebut menjadikan pasokan emas relatif lebih tangguh terhadap potensi gangguan dibandingkan minyak, sehingga kecil kemungkinan terjadi disrupsi pasokan. Kedua adalah Indonesia merupakan produsen emas terbesar di Asia Tenggara sekaligus menempati peringkat ke-10 negara penghasil emas di dunia. Hal tersebut menempatkan Indonesia pada posisi strategis untuk memanfaatkan kenaikan harga emas secara optimal.

Lebih lanjut, Shaokai Fan mengungkapkan dalam lima tahun terakhir terjadi peningkatan pandangan luar biasa dari Bank Sentral terhadap emas yang akan menjadi bagian besar dari aset cadangan global. Hal tersebut menjadi gambaran yang berlawanan bagi prospek dolar AS. Menyoroti harga emas yang sangat tinggi, Shaokai Fan menyampaikan bahwa 45% Bank Sentral berencana dalam membeli emas dalam jumlah banyak dan menyimpannya di negara asal serta di luar negeri. “Jadi sekali lagi, Anda dapat melihat dampak geopolitik dalam keputusan manajemen cadangan devisa dan bagaimana bank sentral memandang emas sebagai sebuah aset cadangan,” ujar Shaokai Fan.

Lebih lanjut, Shaokai Fan mengatakan Indonesia berada pada posisi yang sangat baik untuk memanfaatkan hal tersebut sebagai negara produsen emas utama. Shaokai Fan juga berharap akan ada lebih banyak lagi penggabungan emas ke dalam sistem keuangan Indonesia.

Narasumber selanjutnya, Arief Wijaya menyampaikan paparan yang mengangkat tema “Advancing a Sustainable Green Economy: Cooperation, Strategic Resources, and the Future of Industrial Transformation”. Arief menyoroti posisi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar sekaligus negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia, sekitar 60 juta ton nikel atau setara dengan 44% dari total cadangan sejumlah mineral kritis lainnya, seperti timah, kobalt, bauksit, dan tembaga. Dengan potensi sumber daya tersebut, Indonesia dinilai menempati posisi yang sangat strategis dalam membentuk arah perkembangan industri mineral kritis di masa depan.

Perlu diketahui bersama, bahwa pemerintah memiliki prioritas untuk melakukan hilirisasi nikel. Hal tersebut merupakan keputusan strategis pemerintah berdasarkan rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2025-2029. Selain itu, Indonesia memiliki target pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi, yakni sebesar 8%. Hilirisasi nikel yang berkelanjutan merupakan salah satu strategi utama untuk mencapainya.

Selama 14 tahun terakhir, jenis pendapatan yang berasal dari industri nikel naik sepuluh kali lipat, sekitar 3 miliar USD pada tahun 2010. Hal tersebut menunjukkan bahwa nikel dan produk nikel dapat berperan sebagai sektor strategis untuk pembangunan ekonomi Indonesia.

Arief mengatakan cara Indonesia berkembang harus melalui transformasi ekonomi, yakni aksi iklim dan pembangunan ekonomi yang inklusif dan bertanggung jawab serta berkelanjutan harus berjalan beriringan. Menurutnya, transformasi ekonomi yang adil dan merata tidak dapat dicapai negara mana pun tanpa menempuh jalur pembangunan yang berorientasi pada ekonomi rendah karbon dan bersifat inklusif.

Kunci pada langkah-langkah industri hijau harus bersifat kooperatif. Arief mengatakan industri hijau harus memperluas kapasitas teknologi bersih global dan mempercepat dekarbonisasi industri dan memiliki nilai bersama di seluruh rantai. Menurut Arief, hal tersebut adalah satu-satunya cara kerja sama global dalam hal perdagangan dalam pembangunan yang dapat berpotensi memberikan manfaat bagi semua pihak. 

Selanjutnya, narasumber terakhir pada sesi pleno 2 Ben Lawson menyampaikan paparan dengan mengangkat tema “Reconfiguring Regional Supply Chains and Logistics: Diversification, Intra-Regional Trade, and Economic Resilience”. Saat COVID-19, dunia mengalami banyak hambatan rantai pasok dan diperburuk dengan penutupan Selat Hormuz sehingga berdampak pada pasokan energi.

Indonesia telah diketahui sebagai negara dengan penghasil nikel terbesar. Menyoroti hal tersebut, Ben mengatakan Indonesia merupakan bagian yang sangat besar dari rantai pasok global untuk mineral dan energi. Ben juga menyampaikan, menghindari ketergantungan pada teknologi-teknologi yang saling bersaing dan memihak pada blok-blok pasar tertentu adalah kunci yang lebih penting dalam keberhasilan Indonesia. Menurutnya, Indonesia perlu berfokus pada banyak reformasi struktural di dalam negeri.

Lebih lanjut, Ben turut menyoroti hal-hal yang perlu diperhatikan Indonesia, yakni tantangan logistik, pembangunan fasilitas tenaga surya, pengolahan sampah menjadi energi, dan peralihan batu bara ke energi terbarukan. Mengenai peralihan batu bara ke energi terbarukan, Indonesia memiliki batu bara dalam jumlah yang besar dan melimpah.

Pemanfaatan teknologi batu bara bersih, seperti gasifikasi maupun pembakaran ultra-supercritical dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari penggunaan batu bara. Sejalan dengan hal tersebut, Indonesia dinilai perlu memanfaatkan momentum tersebut untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya batu bara yang dimilikinya melalui teknologi yang lebih bersih dan efisien. “Bakarlah batu bara dengan lebih bersih, bakarlah atau gunakan dengan lebih baik, tetapi hal ini tidak boleh menjadi hambatan (hamstring) bagi Indonesia untuk menggunakan sumber daya masif yang telah dianugerahkan pada Indonesia,” pungkasnya. (SP/CHP)


Tag