Gubernur Lemhannas RI: Tidak Hanya Artifficial Intelligence, Bangsa Memerlukan Human, Spiritual,dan Authentic Intelligence

Berita & Artikel Rabu, 24 Juni 2026, 14:00

Gubernur Lemhannas RI Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si. berkesempatan menjadi keynote speaker dalam acara The Asian Islamic Universities Association (AIUA) International Seminar and Annual General Meeting di Gedung Auditorium Harun Nasution, Uin Syarif Hidayatullah, pada Rabu (24/6). Acara tersebut mengangkat tema “Transforming Islamic Higher Education for Advancing Global Peace, Resilience, and Inclusive Development”.

Gubernur Lemhannas RI dalam kesempatannya mengatakan, dunia saat ini berada pada titik perubahan yang membawa berbagai konsekuensi dan memberikan pengaruh pada seluruh aspek kehidupan manusia. Hal tersebut terlihat dari rivalitas geopolitik yang semakin meningkat, perkembangan teknologi berlangsung secara eksponensial, ancaman siber yang semakin kompleks, perubahan iklim yang  mengganggu stabilitas global, dan kemajuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang mulai mengubah cara manusia bekerja, berinteraksi, dan mengambil keputusan.

Di saat yang sama, dunia juga menghadapi tantangan berupa meningkatnya polarisasi sosial, penyebaran disinformasi, krisis kepemimpinan, serta melemahnya nilai-nilai moral dan kemanusiaan. Oleh sebab itu, persoalan yang kita hadapi saat ini pada hakikatnya bukan sekadar persoalan ekonomi atau teknologi, melainkan persoalan peradaban.  Gubernur Lemhannas RI mengatakan bangsa yang mampu bertahan bukanlah bangsa yang hanya memiliki kekayaan sumber daya alam, melainkan bangsa yang memiliki kualitas manusia yang unggul, kekuatan nilai, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman.

Dalam perspektif peradaban Islam, pendidikan merupakan langkah besar pembentukan manusia dan pembangunan peradaban. Oleh karena itu, perguruan tinggi Islam tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian kecerdasan intelektual semata. “Ilmu harus melahirkan hikmah, dan kecerdasan harus melahirkan tanggung jawab moral,” ujar Gubernur Lemhannas RI. Sejalan dengan hal tersebut, pendidikan tinggi Islam harus mampu melahirkan manusia yang utuh, unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki kedalaman spiritual, karakter yang kuat serta tanggung jawab sosial dan kebangsaan.

Lebih lanjut, Gubernur Lemhannas RI menyampaikan, di tengah meningkatnya polarisasi dan konflik identitas di berbagai belahan dunia, pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa Islam, demokrasi, modernitas, dan keberagaman bukanlah sesuatu yang saling bertentangan. Semua hal tersebut dapat tumbuh secara harmonis dan saling memperkuat. Oleh karena itu, Indonesia memiliki modal peradaban yang sangat berharga dan dapat memberikan kontribusi penting bagi masyarakat internasional.

Sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia dianugerahi sebuah konsensus kebangsaan yang sangat luhur, yaitu Pancasila. Bukan hanya sebagai dasar negara atau ideologi politik, Pancasila dimaknai sebagai mahakarya peradaban yang berhasil memadukan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan sosial ke dalam suatu kesatuan yang utuh. 

Dengan adanya keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa yang dimiliki bangsa Indonesia, Pancasila telah menjadi perekat yang mampu menjaga persatuan sekaligus menjadi fondasi bagi pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara yang demokratis, inklusif, dan berkeadaban. Nilai-nilai tersebut memiliki keselarasan yang sangat kuat dengan prinsip-prinsip universal Islam. “Pancasila sesungguhnya menunjukkan bahwa agama dan kebangsaan bukanlah dua hal yang saling dipertentangkan, melainkan dapat berjalan secara harmonis dan saling menguatkan dalam membangun kehidupan bersama,” jelas Gubernur Lemhannas RI.

Lebih lanjut, Gubernur Lemhannas RI menyampaikan dunia telah memasuki babak baru yang ditandai oleh perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Teknologi membawa peluang bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan manusia. Namun, dibalik hal tersebut, kemajuan teknologi juga tidak selalu identik dengan kemajuan kemanusiaan. Menurutnya, bangsa tidak hanya memerlukan artificial intelligence, tetapi juga human intelligence, spiritual intelligence, dan authentic intelligence, yaitu kecerdasan yang dibangun di atas fondasi akhlak, kebijaksanaan, empati, serta tanggung jawab moral. Gubernur Lemhannas RI mengatakan bahwa sehebat apa pun teknologi yang diciptakan, tidak akan pernah mampu menggantikan hati nurani dan nilai-nilai kemanusiaan yang merupakan anugerah tuhan kepada manusia.

Mengenai ketahanan nasional, dari perspektif Indonesia, hal tersebut tidak harus dipahami hanya dalam hal kemampuan militer atau pertahanan nasional dalam pengertian konvensional. Ketahanan nasional mewakili kapasitas dinamis suatu bangsa untuk bertahan dan mengatasi berbagai ancaman, tantangan, dan gangguan melalui kekuatan lembaga-lembaganya, ketahanan rakyatnya, dan kesatuan masyarakatnya. Dalam masyarakat demokratis, ketahanan pada akhirnya dibangun di atas nilai-nilai bersama, kohesi sosial, dan kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan sambil mempertahankan identitas nasional dan tujuan kolektif.

Saat ini, sifat ancaman menjadi semakin multidimensional. Negara-negara dihadapi tidak hanya dengan tantangan keamanan tradisional, tetapi juga dengan ancaman siber, disinformasi, polarisasi sosial, ekstremisme, degradasi moral, dan konsekuensi disruptif dari transformasi teknologi yang cepat. Menangani tantangan-tantangan tersebut, dibutuhkan lebih dari sekadar instrumen keamanan yang menuntut pembinaan warga negara yang tangguh yang diberi kapasitas intelektual, integritas moral, dan tanggung jawab sosial. Dalam konteks tersebut, pendidikan tinggi Islam memegang peran strategis. Universitas Islam diharapkan tidak hanya sebagai pusat keunggulan akademik dan kemajuan ilmiah, tetapi juga sebagai lembaga yang membina karakter, mempromosikan moderasi, memperkuat nilai-nilai demokrasi, dan berkontribusi pada ketahanan nasional.

Dalam memajukan sebuah peradaban, investasi terbesar yang dapat dilakukan sebuah bangsa adalah investasi pada manusia. Kemajuan suatu negara dan kemajuan dunia pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, kekuatan ekonomi, ataupun kecanggihan teknologi, tetapi sangat ditentukan oleh kualitas manusianya. Oleh karena itu, dunia membutuhkan generasi yang tidak hanya unggul dalam penguasaan sains dan teknologi, tetapi juga memiliki integritas, kedalaman spiritual, semangat kemanusiaan, serta kemampuan untuk menjawab berbagai tantangan global yang semakin kompleks. Dari generasi unggul tersebutlah akan lahir pemimpin-pemimpin masa depan yang memiliki visi jauh ke depan, mampu menjembatani berbagai perbedaan, serta memiliki keberanian moral untuk menghadirkan perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan bersama.

Peradaban masa depan tidak hanya akan dimenangkan dengan kemajuan teknologi, tetapi dengan memadukan kekuatan ilmu pengetahuan dengan keluhuran moral, kedalaman spiritual, dan kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi demi kemaslahatan umat manusia. “Melalui kekuatan ilmu pengetahuan, nilai-nilai Pancasila, serta semangat Islam rahmatan lil alamin, Indonesia akan tampil sebagai bangsa besar yang dihormati dunia dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi perdamaian serta kemajuan peradaban umat manusia,” pungkas Gubernur Lemhannas RI mengakhiri sambutan kunci. (SP/CHP)


Tag