Wamendiktisaintek RI Pandang Misinformasi dan Disinformasi sebagai Ancaman Global
Berita & Artikel Rabu, 2 September 2026, 12:00
“Berbagai kebijakan yang kita buat harus mengantisipasi dan juga bahkan mengatasi akibat-akibat dari bahwa di Indonesia ini banyak sekali menghadapi hoaks,” kata Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Wamendiktisaintek RI) Stella Christie. Hal tersebut disampaikan saat memberikan kuliah umum kepada peserta Program Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) Angkatan 70 Lemhannas RI pada Rabu (2/9).
Dalam kesempatan tersebut, Wamendiktisaintek RI menyampaikan bahwa misinformasi dan disinformasi bukan hanya ancaman nasional tetapi sudah menjadi ancaman global. Data UN Global Risk Reportmenunjukkan bahwa lebih dari 1.100 pakar dari 136 negara menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu ancaman paling serius saat ini. “Lebih serius dari pandemi, lebih serius dari AI, atau lebih serius dari polusi, yang semuanya adalah sesuatu yang semuanya adalah serius, tapi misinformasi ini luar biasa serius,” ujar Wamendiktisaintek RI.
Lebih lanjut, Wamendiktisaintek RI memaparkan analisa kognitif mengapa hoaks dipercaya. Analisa pertama dilakukan pada aspek politik partisanship yang menunjukkan pilihan politik tidak membuat seseorang lebih mudah mempercayai hoaks, walaupun hoaks tersebut sejalan dengan pilihan politiknya. Wamendiktisaintek RI merasa hal ini sebagai hal yang sangat baik.
Analisa kedua adalah cognitive reflection. Wamendiktisaintek menjelaskan hasil riset yang dilakukan dua psikologis kognitif, yakni Daniel Kahneman dan Amos Tversky yang menunjukkan bahwa manusia mempunyai dua sistem berpikir, sistem satu dan sistem dua. Sistem satu adalah berpikir cepat, intutitif, praktis, serta cenderung secara otomatis, sedangkan sistem dua adalah berpikir lebih lambat dengan sadar, penuh analisa, dan cenderung memerlukan usaha. Sehingga sistem satu lebih rentan salah dan sistem dua lebih andal. Kedua sistem tersebut ada di setiap manusia, hanya pemakaiannya yang harus menyesuaikan keadaan. Orang yang sering mempercayai hoaks biasanya karena sedang menggunakan sistem berpikir satu. “Kalau kita merefleksi sedikit saja, ternyata masing-masing individu mampu menggunakan sistem dua yang membuat mereka lebih tidak percaya kepada hoaks,” ujar Wamendiktisaintek.
Analisa ketiga adalah berdasarkan prior knowledge, artinya jika ada hoaks yang disebarkan yang serupa dengan pengetahuan sebelumnya maka akan terasa menjadi kebenaran. Namun, bukan berarti pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya tidak benar, hanya karena hoaks yang diterima serupa maka lebih mudah dipercaya. Analisa keempat yakni heuristics yang berhubungan dengan sistem satu berpikir yang telah disampaikan Daniel Kahneman dan Amos Tversky. Heuristics berhubungan dengan sistem satu karena heuristics merupakan cara berpikir “jalan pintas” yang membentuk pola. Pola yang terbentuk adalah familiarity (keakraban) di mana kalau suatu hoaks terasa familiar maka cenderung lebih mudah dipercaya. Kemudian pola kedua adalah salience (kemenonjolan) di mana jika suatu hoaks menonjol di pikiran maka lebih mudah dipercaya.
Pada kesempatan tersebut, Wamendiktisaintek menyampaikan bahwa solusi jangka panjang dari memerangi hoaks adalah edukasi melalui pelatihan memilah informasi kritis. Namun, hal tersebut tidak otomatis berhasil karena banyak tantangan yang membuat tidak efektif. Bahkan jika terlalu fokus pada pemilahan “fake news” dapat mengakibatkan kesinisan pada semua berita, termasuk berita benar. Menutup ceramahnya, Wamendiktisaintek mengajak seluruh peserta P4N Angkatan 70 untuk berkolaborasi mengambil kebijakan dan regulasi agar model bisnis penyebaran berita dapat dilakukan lebih bertanggung jawab oleh pihak-pihak yang memproduksi. (NA/CHP)

