Wamenkomdigi: Transformasi Digital Harus Dibangun di Atas Fondasi Keamanan Siber yang Kuat
Berita & Artikel Rabu, 5 Agustus 2026, 15:00
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital RI Nezar Patria berkesempatan memberikan materi kepada para pegawai grup Pertamina peserta Program Pemantapan Nilai-nilai Kebangsaan (PPNK) Kolaboratif angkatan ke-120 di Ruang Pancasila pada Rabu (5/8). Pada kesempatan tersebut, Nezar memaparkan materi dengan judul “Merajut Ketahanan Siber Bangsa di Era Agentic AI”.
Mengawali paparannya, Nezar mengatakan bahwa dunia saat ini sedang berada di satu masa yang penuh dengan ketidakpastian (uncertainty), dan ketidakmenentuan yang dipicu oleh satu situasi yang dikenal sebagai tech race atau perlombaan teknologi. Perlombaan teknologi tersebut adalah emerging technologies yang sangat strategis, yaitu Artificial Intelligence (AI).
Saat ini, sebanyak lebih dari 70% masyarakat dunia di tingkat terpapar oleh AI yang masuk melalui platform-platform media sosial yang memberikan fitur AI. Sehingga, penyebaran teknologi menjadi begitu masif secara global dan memberikan dampak yang tidak kecil.
Dikatakan oleh Nezar, AI juga dikenal sebagai Generative AI (Gen AI). Gen AI adalah bentuk AI setelah machine learning dan juga deep learning. Ketahanan nasional di abad ke-21 tidak lagi hanya soal wilayah darat, laut, dan udara, tetapi juga soal ruang siber. Kini, dunia telah memasuki sebuah dimensi baru yang jauh lebih cepat dan lebih otonom, yakni ruang kerja para agen kecerdasan buatan atau agentic AI. Agentic AI dapat dimanfaatkan dalam beberapa hal, di antaranya sektor pemasaran, sebagai personal assistant,customer relationship management (CRM), hingga procurement (pengadaan).
Di sisi lain, penerapan agentic AI memiliki tantangan ketika bertemu dengan persoalan cyber security. Microsoft menilai bahwa kehadiran agentic AI sebagai sistem otonom yang bisa bernalar, beradaptasi, dan beroperasi tanpa henti ini adalah pendekatan keamanan yang harus berubah.
Sejalan dengan tantangan tersebut, Microsoft memperkenalkan konsep The New Cyber Stack, yaitu sebuah sistem yang mampu memahami risiko, menganalisis konteks, bertindak secara terus-menerus dan real-time, serta dikoordinasikan oleh tim-tim agen yang saling melengkapi. Agen-agen tersebut memiliki beberapa fungsi, yakni agen yang mensimulasikan serangan (white hacker), agen yang mendeteksi dan menganalisis, serta gen yang memperbaiki dan memperkuat pertahanan.
Lebih lanjut, Nezar menyoroti peringatan yang menarik dari World Economic Forum (WEF) bahwa hal yang harus diperhatikan dari Agentic AI dan cyber security adalah keamanan data. Menurutnya, keamanan data menjadi hal yang paling penting, karena AI membutuhkan data untuk bisa bekerja.
Oleh karena itu, data menjadi benda yang paling berharga dan dilindungi oleh negara-negara yang maju dan berteknologi tinggi hingga data pentingnya sulit ditembus. Namun sebaliknya, untuk negara-negara yang punya sistem keamanan yang lemah atau sistem manajemen data yang acak, akan mudah ditembus dan dicuri.
Nezar menyampaikan data adalah bahan bakar baru saat ini hingga menjadi mata uang baru. Menyadari pentingnya data, sejumlah negara telah membuat arsitektur keamanan data yang dilindungi oleh undang-undang.
Dikatakan oleh Nezar bahwa pemerintah menetapkan keamanan siber sebagai prioritas nasional. Menyoroti hal tersebut, Nezar mengatakan Indonesia sudah memiliki Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP). Presiden Prabowo Subianto secara tegas telah memberikan arahan bahwa keamanan siber adalah bagian dari ketahanan nasional, bukan sekadar urusan teknis semata.
Selanjutnya, hal penting yang perlu diperhatikan adalah AI bukan hanya semata-mata teknologi, melainkan sudah menjadi instrumen geopolitik. “Itulah sebabnya Bapak Ibu sekalian berada di Lemhannas, supaya memahami bahwa teknologi yang kita gunakan erat kaitannya dengan pertarungan geopolitik,” ujar Nezar.
Sebelum mengakhiri materinya, Nezar menegaskan transformasi digital BUMN dan industri strategis harus dibangun di atas fondasi keamanan siber yang kuat demi menjaga ketahanan nasional. Untuk membangun fondasi keamanan siber yang kuat, Nezar menyampaikan beberapa hal teknis yang harus dilakukan BUMN dan industri strategis, yakni memperkuat arsitektur identitas dan akses, menginvestasikan talenta digital (SDM) yang fokus pada cyber security, membangun deteksi berkelanjutan, dan meningkatkan kesadaran bahwa dalam setiap transformasi digital yang dilakukan harus mempertimbangkan cyber security sejak awal perancangan.
Menutup materinya, Nezar mengatakan bahwa Kemkondigi sedang merancang Peta Jalan Nasional AI (National AI Roadmap) dan juga menaruh perhatian pada isu keamanan siber. “Kita berharap implementasinya bisa dilakukan setelah peta jalan ini, (hingga) secara resmi diterbitkan sebagai Peraturan Presiden,” pungkas Nezar. (SP/CHP)




