Waka Ketua KPK: Tidak Mungkin Mengatasi Korupsi Tanpa Mengobati Penyakit Hati

Berita & Artikel Kamis, 6 Agustus 2026, 16:00

“Kebahagiaan tersulit adalah melepas ego dan harta. Tanda orang takwa adalah orang-orang yang sudah mampu melepas kemelekatan atas ego dan harta,” ujar Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI Dr. Fitroh Rohcahyanto, S.H., M.H. saat memberikan materi kepada para pegawai grup Pertamina peserta Program Pemantapan Nilai-nilai Kebangsaan (PPNK) Kolaboratif angkatan ke-120 di Ruang Pancasila pada Kamis (6/8). Fitroh mengawali materinya dengan memberikan pemahaman tentang ketakwaan.

Menurut Fitroh, orang yang memiliki ketakwaan adalah orang yang mampu melepas kemelekatan duniawi, mengendalikan amarah dan ego, serta mampu memaafkan. Sejalan dengan hal tersebut, dalam diri manusia harus banyak meluaskan rasa sabar, syukur, dan Ikhlas. Jika seseorang sudah menanamkan karakter tersebut, maka akan mampu menjauhkan diri dari perilaku korupsi.

Adapun dampak korupsi yang disampaikan oleh Fitroh, yakni merusak pasar, harga, dan persaingan usaha yang sehat, meruntuhkan hukum, menurunkan kualitas hidup dan pembangunan berkelanjutan, merusak proses demokrasi, pelanggaran hak asasi manusia, hingga menyebabkan kejahatan lain berkembang. Lebih lanjut, Fitroh menyampaikan bahwa sistem dari sebuah badan usaha atau perusahaan harus mencerminkan sebuah ketakwaan. Fitroh berpesan kepada peserta yang merupakan pegawai dari sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN), harus mampu menerapkan sikap IDOLA, yakni Integritas, Dedikasi, Objektif, Loyalitas, dan Adil. 

Fitroh menekankan pimpinan harus memiliki komitmen antikorupsi. Kebijakan antikorupsi merupakan prasyarat yang harus dimiliki institusi dalam mencegah korupsi terjadi. Dikatakan juga oleh Fitroh budaya integritas dan komitmen program antikorupsi harus dibangun dan diawali dari puncak korporasi. Fitroh juga menuntut peserta agar bekerja secara MESRA, yakni Melayani Siapapun, Mempunyai Empati, Sepenuh Hati, Ramah, dan Antusias. 

Ketika konsep IDOLA dan MESRA berhasil diterapkan dalam diri tiap individu, mampu menghindari penyakit hati, maka Fitroh meyakini perilaku korupsi juga akan berkurang. “Mudah-mudahan konsep-konsep ini bisa membuka hati kita semua. Kalau penyakit hati kita berkurang, Insya Allah perilaku koruptif juga pasti berkurang. Karena kalau kita bicara korupsi tanpa mengobati penyakit hati, nggak mungkin,” pungkas Fitroh. (SP/CHP)


Tag