Wamenkomdigi Dorong Penguatan Indonesia Melalui Pemanfaatan Mineral Kritis dan Komputasi Berdaulat

10 July 2026

Press Release

Nomor  : PR/43/VII/2026

Tanggal : 10 Juli 2026

Jakarta- Kekayaan mineral kritis dan kapasitas komputasi nasional yang berdaulat dinilai dapat menjadi motal utama bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya di kancah geopolitik teknologi global. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) RI, Nezar Patria saat memberikan sambutan Sesi Panel Ketiga Jakarta Geopolitical Forum X/2026 Lemhannas RI di Auditorium Binakarna, Bidakara, Jakarta pada Kamis (9/7).

“Indonesia dapat menjadi titik temu yang tidak bisa dilewati begitu saja oleh negara-negara lain. Sangat krusial karena mineral, pasar, talenta, data, dan kapasitas komputasi kita,” tegasnya.

Dalam paparannya, Wamenkomdigi mengutip pelajaran penting dari karya Jeffrey Ding tentang teknologi dan kebangkitan kekuatan besar, bahwa kekuasaan yang bertahan lama tidak diperoleh suatu bangsa hanya karena menjadi yang pertama menciptakan teknologi, melainkan melalui pembangunan keterampilan, kelembagaan, infrastruktur, serta kapasitas rekayasa umum untuk menyebarluaskan teknologi tersebut ke seluruh sektor ekonomi riil.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kecerdasan buatan merupakan teknologi serbaguna yang nilainya akan diperebutkan oleh negara-negara yang membangun sumber daya manusia, kapasitas komputasi, tata kelola data, dan keterkaitan industri. Cara pandang inilah, menurutnya, yang harus dibawa Indonesia dalam memasuki abad ke-21.

Ia turut menyoroti persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok yang kini berlangsung melalui kendali cip canggih serta kemandirian produksi AI domestik, namun keduanya sama-sama berisiko terlalu berfokus pada sektor mutakhir dan strategi pembatasan, sementara investasi pada basis yang lebih luas masih kurang. Celah inilah yang menurutnya membuka ruang bagi negara kekuatan menengah seperti Taiwan dan Korea Selatan, sehingga Indonesia pun didorong mengambil peran serupa, bukan sekadar penonton dalam rivalitas kedua raksasa tersebut.

Terkait hal ini, Wamenkomdigi menyebutkan Indonesia memiliki empat kartu strategis. Pertama, kekuatan sumber daya, di mana nikel, tembaga, timah, bauksit, dan silika memberikan posisi yang berarti bagi Indonesia dalam rantai nilai hulu. Meski demikian, Indonesia masih perlu meraih lebih banyak nilai tambah di luar sekadar ekstraksi dan pemrosesan.

Kedua, kekuatan pasar. Indonesia memang memiliki ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, namun menjadi pasar yang besar tidak serta-merta memiliki keunggulan strategis di bidang teknologi. Ketiga, kekuatan demografi, di mana populasi yang muda dan fasih digital menjadi kekuatan nyata, tetapi perlu diarahkan agar para pengguna tersebut dapat bertransformasi menjadi pengembang melalui pengembangan talenta AI dan semikonduktor.

Keempat, kapasitas komputasi, yang menurutnya masih menjadi sisi kelemahan yang terekspos. Sebab, ekonomi digital yang besar tidak bisa bersandar pada fondasi kapasitas komputasi domestik yang masih tipis.

“Kita kuat di ujung hulu tingkat rendah dan kuat di ujung hilir yang bersifat konsumtif, tetapi masih terlalu berongga di bagian tengah, tempat di mana komputasi, talenta, data, dan kemampuan industri mengubah skala menjadi daya ungkit,” jelas Wamenkomdigi.

Kendati demikian, ia menekankan bahwa keunggulan mineral kritis tetap menjadi kekuatan terbesar Indonesia, yang menjadi pemimpin dunia dalam tiga dari lima mineral kritis, meliputi cadangan nikel terbesar dunia, produsen kobalt terbesar kedua, serta pengekspor bijih tembaga terbesar ketiga, mineral-mineral yang esensial bagi infrastruktur AI global. Kekayaan inilah yanng memungkinkan Indonesia bergerak lebih jauh, tidak hanya sebagai konsumen teknologi, melainkan menjadi pemain sentral dalam ekosistem AI global.

Di penghujung paparannya, Wamenkomdigi menegaskan bahwa jaringan energi, pusat data, dan tata kelola data memang tidak segemerlap teknologi mutakhir, tetapi justru elemen-elemen itulah yang pada akhirnya menentukan apakah suatu bangsa mampu mengubah revolusi teknologi menjadi kekuasaan yang bertahan lama.

Jakarta Geopolitical Forum (JGF) merupakan forum strategis yang mempertemukan para pembuat kebijakan, diplomat, akademisi, kalangan think tank, pelaku industri, hingga media dalam satu ruang dialog. Melalui forum ini, berbagai perspektif strategis mengenai geopolitik, geo-ekonomi, dan teknologi dipertukarkan guna menghasilkan langkah-langkah mitigasi serta gagasan kebijakan yang aplikatif, demi memperkuat ketahanan nasional, menjaga stabilitas kawasan, dan mempererat kerja sama global.

 

Kepala Biro Humas Settama Lemhannas RI

Brigadir Jenderal TNI Muhammad Arif Nur

 

Biro Humas Lemhannas RI

Jalan Medan Merdeka Selatan 10, Jakarta 10110

Telp. 021-3832108/09

http://www.lemhannas.go.id

Instagram : @lemhannas_ri

Facebook : lembagaketahanannasionalri

Twitter : @LemhannasRI