Mendikdasmen RI: Guru adalah Agen Peradaban, Bukan Hanya Agen Pembelajaran

News & Article Monday, 29 September 2025, 14:00

Dalam rangka membekali para peserta P3N Angkatan XXVI Lemhannas RI tentang arah pembangunan pendidikan nasional, Lemhannas RI menghadirkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. untuk menyampaikan kuliah umumnya di Auditorium Gadjah Mada, Lemhannas RI, pada Senin (29/9). Kedatangan Mendikdasmen RI disambut langsung oleh Gubernur Lemhannas RI Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Lemhannas RI menyampaikan bahwa secara operasional, kebijakan dalam menyiapkan SDM unggul berada pada pundak Abdul Mu’ti sebagai salah satu pemegang kunci dari program Presiden Prabowo Subianto. Gubernur Lemhannas RI berharap materi yang akan peserta P3N Angkatan XXIV terima dari Abdul Mu’ti dapat menjadi kunci bagi penulisan kertas kerja perorangan peserta. 

Mengawali paparannya, Abdul Mu’ti menyampaikan rasa optimistisnya terhadap kemajuan Indonesia di masa depan. Hal tersebut didasari dengan empat modal yang dimiliki Indonesia, yakni sumber kekayaan alam yang luar biasa, bonus demografi, modal sosial politik bangsa Indonesia dan modal spiritual bangsa Indonesia yang dinilai paling taat di dunia. “Saya kira empat kekuatan itu menjadi modal untuk kita bisa menjadi bangsa yang hebat, (dan) bangsa yang besar,” ujarnya.

Dalam konteks pendidikan, terdapat tiga tantangan yang perlu dihadapi. Pertama adalah pemerataan dalam memperoleh akses pendidikan. Kedua adalah kesenjangan mutu pendidikan yang terdiri dari tiga parameter, yakni kesenjangan mutu antar kawasan, kemampuan literasi dan numerasi, dan kesenjangan antara sekolah negeri dan swasta. Lalu yang ketiga adalah masalah yang berkaitan dengan karakter bangsa, seperti generasi stroberi, judi online, pornografi, narkoba, hingga masalah kesehatan mulai dari obesitas, kesehatan mata karena kecanduan gadget, kesehatan gigi, telinga, dan gangguan mental.

Untuk meningkatkan mutu pendidikan, melalui program prioritasnya, pemerintah melakukan perbaikan yang berkaitan dengan sarana dan prasarana. Program tersebut adalah revitalisasi satuan pendidikan dan program digitalisasi. Program digitalisasi adalah program untuk memperbaiki mutu pendidikan dengan menyediakan sarana pembelajaran yang memadai. Bentuk program tersebut ada empat, yakni Interactive Flat Panel (IFP), penyediaan laptop, penyediaan materi pembelajarannya, dan pelatihan guru.

“Untuk guru, kami meyakini sepenuhnya keberhasilan pendidikan itu penentu utamanya adalah guru. Secanggih apa pun teknologi tidak bisa menggantikan fungsi dan posisi guru,” ujar Abdul Mu’ti. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa guru adalah agent of civilization atau agen peradaban yang tidak hanya berperan sebatas agen pembelajaran.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah memberikan tiga program untuk guru, yakni sertifikasi guru, kualifikasi guru, dan pelatihan kompetensi guru. Pelatihan kompetensi yang diberikan kepada guru adalah deep learning (pembelajaran mendalam), pelatihan coding dan artificial intelligence (AI), dan bimbingan konseling. Dengan adanya pelatihan bimbingan konseling sebagai pemenuhan tugas guru, diharapkan pendidikan karakter anak Indonesia dapat terbangun.

Untuk melakukan penguatan pendidikan karakter, Kemendikdasmen RI menerapkan kebijakan 7 kebiasaan, yakni bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat dan tidur cepat.  Selain 7 kebiasaan tersebut, Kemendikdasmen RI juga mengusung program “Pagi Ceria” yang mewajibkan siswa menyanyikan lagu Indonesia Raya seminggu dua kali sebelum belajar, senam anak Indonesia hebat dan berdoa. Program-program tersebut menjadi upaya pemerintah dalam membangun SDM yang unggul dan tangguh dalam menyongsong Indonesia emas 2045. (SP/CHP)


Tag