Wujudkan SDM Unggul Melalui Penguatan Strategi Kesehatan, Transformasi Pendidikan, dan Program Gizi
News & Article Saturday, 18 April 2026, 14:00
Lemhannas RI menghadirkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed., Menteri Kesehatan (Menkes) RI Budi Gunadi Sadikin, dan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dr. Ir. Dadan Hindayana untuk memberikan pembekalan kepada peserta KPPD Ketua DPRD seluruh Indonesia di Akademi Militer (Akmil), Magelang, pada Sabtu (18/4).
Pembangunan sumber daya manusia menjadi prioritas utama dalam agenda nasional, sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan pendidikan, kesehatan, dan gizi sebagai fondasi utama.
Abdul Mu’ti menekankan bahwa pemenuhan hak warga negara untuk mendapatkan pendidikan bermutu merupakan amanah konstitusi dan selaras dengan Asta Cita Presiden RI. Sejalan dengan hal tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah berkomitmen untuk mewujudkan pendidikan bermutu untuk bangsa Indonesia. Hal tersebut tentunya membutuhkan dukungan strategis dari pimpinan DPRD di seluruh Indonesia.
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa transformasi pendidikan diarahkan tidak hanya pada pemerataan akses, tetapi juga peningkatan kualitas pembelajaran agar relevan dengan perkembangan zaman. Hal ini diwujudkan melalui berbagai program seperti peningkatan kompetensi guru, penguatan literasi dan numerasi, serta pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran.
“Yang pada tahun 2025, kami telah membangun 16.167 revitalisasi satuan pendidikan yang tersebar di 38 provinsi, 514 kabupaten/kota, dan 5.273 kecamatan. Total anggarannya 16 triliun, dan sudah kami realisasi untuk 16.167 yang awalnya targetnya 10.440,” kata Abdul Mu’ti.
Upaya revitalisasi tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan. Selain mendukung proses belajar mengajar, program ini juga memberikan dampak ekonomi melalui keterlibatan tenaga kerja dan pelaku usaha lokal, sehingga pendidikan tidak hanya berperan dalam pembangunan SDM tetapi juga pertumbuhan ekonomi.
Dalam hal penguatan karakter, Abdul Mu'ti menggarisbawahi dukungan penuh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terbukti meningkatkan tingkat kehadiran siswa. Ia juga menekankan kebijakan "Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat" (bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat) serta penumbuhan nasionalisme melalui upacara bendera dan kegiatan kepramukaan wajib.
“Kesuksesan program ini tentu tidak dapat dilepaskan dari dukungan anggaran dari pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota. Sehingga walaupun ada anggaran dari kami di pusat, tentu akan dapat efektif dan akan semakin baik hasilnya apabila juga mendapatkan dukungan dari pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota di seluruh Indonesia,” tegas Abdul Mu’ti
Di sisi lain, sektor kesehatan diarahkan pada pendekatan promotif dan preventif guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Budi Gunadi menjelaskan bahwa pemerintah telah menempatkan sektor kesehatan sebagai prioritas melalui Asta Cita, 17 program prioritas nasional, serta program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden.
Pemerintah mendorong perubahan paradigma dari pengobatan menuju pencegahan, dengan memperkuat layanan kesehatan dasar serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat.
“Strategi kesehatan saya sudah ngomong ini ke beberapa kepala daerah. Jadi kepala DPRD juga perlu, yang benar adalah menjaga jangan sampai sakit, bukan mengobati yang sakit. Prioritas keduanya baru mengobati yang sakit,” kata Budi Gunadi.
Pendekatan tersebut menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah dalam mendukung program kesehatan berbasis pencegahan, seperti peningkatan sanitasi, edukasi kesehatan, serta akses layanan kesehatan yang merata. Dengan demikian, beban kesehatan dapat ditekan dan produktivitas masyarakat dapat terus meningkat.
Budi Gunadi memaparkan ada tiga strategi utama yang memerlukan kolaborasi erat dengan pemerintah daerah. Pertama, pembangunan dan peningkatan kualitas rumah sakit di berbagai daerah. Kedua, program cek kesehatan gratis sebagai upaya preventif dan bertujuan untuk mendeteksi dini penyakit kronis sehingga dapat ditangani lebih cepat dan murah, serta ditargetkan untuk 280 juta rakyat Indonesia.
Lalu yang ketiga adalah penanggulangan TBC. Budi Gunadi meminta dukungan para ketua DPRD di seluruh Indonesia untuk memastikan pelaporan dan pemantauan kasus TBC berjalan maksimal.
Selain pendidikan dan kesehatan, pemenuhan gizi melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi strategi penting dalam peningkatan kualitas SDM sejak dini. Program ini dirancang untuk mengatasi permasalahan gizi, termasuk stunting, yang berdampak langsung pada kemampuan kognitif dan produktivitas di masa depan.
“Nah kita harapkan dengan program ini, stuntingnya bisa dicegah. Karena rata-rata IQ Indonesia sekarang 78, kita dengan harapan, dengan adanya program ini nanti 10 tahun, 15 tahun ke depan, yang lahir hari ini, 20 tahun kemudian kan jadi tenaga kerja produktif, itu sudah tidak stunting lagi,” kata Dadan Hindayana.
Implementasi MBG yang menjangkau berbagai wilayah menunjukkan komitmen pemerintah dalam memastikan pemenuhan gizi masyarakat secara merata. Selain berdampak pada kesehatan, program ini juga mendorong perputaran ekonomi daerah melalui rantai pasok pangan dan distribusi.
Secara keseluruhan, sinergi antara sektor pendidikan, kesehatan, dan gizi menjadi kunci dalam membangun sumber daya manusia yang unggul. Pendidikan yang berkualitas menghasilkan individu yang kompeten, kesehatan yang terjaga meningkatkan produktivitas, dan gizi yang terpenuhi mendukung tumbuh kembang optimal.
Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, termasuk DPRD, sangat diperlukan agar kebijakan yang ada dapat diimplementasikan secara efektif dan berkelanjutan dalam mendukung kemajuan bangsa. (MA/SF)


