Gubernur Lemhannas RI: Dari Pelatihan Kebangsaan, Lahir Para Penggerak Kebangsaan yang Tangguh
News & Article Friday, 26 September 2025, 14:00Deputi Bidang Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan (PPNK) Lemhannas RI menyelenggarakan Upacara Pembukaan Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan yang bersumber dari empat konsensus dasar bangsa bagi Birokrat, Akademisi, Tokoh Masyarakat, Organisasi Profesi, TNI dan Polri angkatan ke-221 di Hotel Papandayan, Bandung, pada Jumat (26/9). Kegiatan tersebut mengangkat tema “Merajut Kebhinekaan, Menguatkan Persatuan Bangsa dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045”.
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Gubernur Lemhannas RI Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si. Dalam sambutannya, Gubernur Lemhannas RI mengatakan kegiatan Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan yang berlangsung, bertujuan untuk menumbuhkan dan memperkuat wawasan kebangsaan serta mengingatkan akan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam menghadapi berbagai permasalahan bangsa. Pada kesempatan tersebut, beberapa isu aktual serta pemahaman kepada akar permasalahan yang terjadi di Masyarakat akan didiskusikan untuk mencari solusi bersama.
Sejalan dengan hal tersebut, selama delapan hari ke depan peserta akan mendalami dan menghayati nilai-nilai kebangsaan melalui proses pembelajaran yang disusun secara integral, komprehensif dan holistik. Dari kegiatan tersebut diharapkan, peserta dapat lebih memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam mendukung program efisiensi yang sedang berjalan.
“Melalui kegiatan ini, kita ingin meneguhkan kembali bahwa nilai-nilai kebangsaan tidak boleh luntur oleh arus globalisasi, polarisasi, atau kepentingan-kepentingan sesaat,” ujar Gubernur Lemhannas RI. Menurutnya, perlu adanya membangun kembali kesadaran kolektif bahwa persatuan dan kesatuan bangsa harus terus dipupuk dan dijaga.
Kegiatan yang diselenggarakan Deputi Bidang PPNK tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk menjadi warga negara yang aktif, produktif, dan bertanggung jawab. Di tengah keberagaman masyarakat, Gubernur Lemhannas RI menekankan kepada peserta agar bisa menjadi contoh bahwa nilai kebangsaan dapat bersinergi dengan pembangunan dan efisiensi untuk mewujudkan kota yang inklusif, adil dan berkelanjutan.
Selama delapan hari ke depan, peserta akan mendapatkan berbagai macam materi, seperti wawasan nusantara, ketahanan nasional, kewaspadaan nasional, kepemimpinan nasional, empat konsensus dasar bangsa, pengantar nilai-nilai kebangsaan dan sejarah perjalanan bangsa, pembangunan karakter bangsa melalui revolusi mental, Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa, Pancasila sebagai kekuatan pemersatu bangsa dan falsafah bangsa, dan lainnya.
Setelah upacara pembukaan kegiatan pemantapan nilai-nilai kebangsaan, acara dilanjutkan dengan ceramah Gubernur Lemhannas RI. Gubernur Lemhannas RI menyampaikan, Indonesia memiliki kekayaan besar yang juga dihadapi dengan berbagai tantangan, mulai dari dinamika geopolitik global, kerawanan bencana alam, hingga disrupsi teknologi yang menggeser nasionalisme.
Selain tantangan tersebut, situasi dunia juga menunjukkan kondisi yang tidak baik-baik saja, mulai dari tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, perang Rusia dan Ukraina, krisis kelaparan di Gaza, hingga konflik Iran dan Israel. Perkembangan geopolitik global menunjukkan pergeseran dari hegemoni unipolar menuju multipolar yang saat ini kecenderungan hubungan internasional bersifat realism dan uniteralism.e
Untuk menjawab tantangan kebangsaan, Gubernur Lemhannas RI menekankan perlu adanya ketahanan nasional yang tangguh melalui penguatan nilai-nilai kebangsaan. Ketahanan nasional bukan hanya pertahanan yang berbasis militer, melainkan cara bangsa Indonesia mampu menghadapi dan mengatasi berbagai ancaman tantangan hambatan serta gangguan baik dari dalam maupun dari luar negeri demi menjaga eksistensi bangsa Indonesia. Dikatakan oleh Gubernur Lemhannas RI, bahwa menjaga ketahanan nasional menjadi tugas dari seluruh komponen Masyarakat, baik TNI, Polri, kalangan perguruan tinggi, akademisi, hingga dunia usaha.
Lemhannas RI membagi dimensi ketahanan nasional dalam Astagatra. Pada gatra geografi, tantangan serius yang dihadapi adalah persoalan perbatasan, pengelolaan bencana, dan konektivitas daerah. Kemudian pada gatra sumber kekayaan alam, tantangan yang dihadapi dan perlu diwujudkan adalah hilirisasi, ketahanan energi, dan ketahanan air. Pada gatra demografi, Indonesia dihadapi tantangan untuk menciptakan SDM yang unggul dan berkualitas, menyediakan lapangan kerja dan persoalan pekerja migran.
Kemudian, pada gatra ideologi tantangan yang dihadapi adalah menurunnya nilai-nilai kebangsaan, ekstremisme dan radikalisme. Pada gatra sosial budaya, tantangan yang dihadapi seperti, stunting, kemiskinan dan digitalisasi. Pada gatra politik, perlu adanya reformasi struktural, pemberantasan korupsi dan mengatasi polarisasi kepentingan. Selanjutnya, pada gatra hankam, tantangan yang dihadapi adalah transnational crime, cybercrime, pelanggaran perbatasan, separatisme, dan kemandirian industri pertahanan. Sedangkan pada gatra ekonomi, tantangan yang dihadapi adalah meningkatnya harga, suku bunga tinggi, volatilitas nilai rendah, harga kebutuhan pokok, perlunya menciptakan ketahanan pangan, dan investasi dalam negeri.
Sejalan dengan hal tersebut, penguatan nilai-nilai kebangsaan wajib digencarkan sebagai salah satu upaya membangun ketangguhan ketahanan nasional pada dimensi delapan gatra tersebut. Dengan diperkuatnya nilai-nilai kebangsaan, dapat membentuk karakter, watak kepribadian, dan jiwa nasionalisme yang menyongsong Indonesia emas 2045. “Jangan pernah lelah membekali diri, karena dari pelatihan inilah lahir para penggerak kebangsaan yang tangguh,” tegas Gubernur Lemhannas RI menutup ceramahnya. (SP/CHP)






