Wamenlu RI: Kita Tidak Menghadapi Satu Krisis, Tetapi Menghadapi Satu Simpul
News & Article Tuesday, 01 September 2026, 12:00
“Dalam foreign policy, fundamental kita adalah bebas aktif. Bukan netral,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Arif Havas Oegroseno. Hal tersebut disampaikan pada kuliah umum kepada peserta P4N Angkatan 70 Lemhannas RI dan personel Lemhannas RI bertempat di Auditorium Gadjah Mada pada Selasa (1/9). Pada kesempatan tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri RI menyampaikan materi tentang Anatomi Ketidakstabilan Global 2025-2030: Proyeksi Ancaman dan Posisi Strategis Indonesia guna Memperkuat Ketahanan Nasional.
Sekretaris Utama Lemhannas RI Komjen Pol. Dr. Gatot Tri Suryanta, M.Si. membuka kegiatan tersebut dengan menyampaikan bahwa dinamika lingkungan strategis global saat ini semakin berkembang yang ditandai oleh rivalitas geopolitik, konflik bersenjata, ketidakpastian ekonomi, perubahan teknologi, serta munculnya berbagai ancaman non militer yang semakin multidimensional. “Kondisi ini menuntut Indonesia untuk mempunyai kemampuan dapat membaca perubahan secara tajam dan cermat sehingga mampu mengantisipasi berbagai potensi ancaman serta mengambil posisi strategis serta melindungi kepentingan nasional,” kata Sekretaris Utama Lemhannas RI.
Oleh karena itu, tema kuliah umum tersebut menjadi sangat relevan khususnya pemahaman terhadap perkembangan lingkungan strategis global yang juga menjadi landasan dalam membangun kepemimpinan nasional yang adaptif, visioner, dan mampu merumuskan kebijakan secara tepat di tengah situasi yang dinamis dan ketidakpastian.
Lebih lanjut, Wakil Menteri Luar Negeri RI menjelaskan bahwa kebijakan bebas artinya adalah tidak tergantung pada pihak lain atau aliansi lain dalam pengambilan keputusan. “Jadi kita harus punya alternatif dan independence, sering kalau di dalam dunia luar negeri itu disebut sebagai strategic autonomy. Jadi tingkat otonomi yang strategis,” kata Wakil Menteri Luar Negeri. Sedangkan aktif artinya tidak diam saja, tetapi aktif mengikuti aturan dan aktif menawarkan solusi seperti terlibat dalam pasukan perdamaian dunia.
Dalam konteks hubungan geopolitik saat ini, semuanya dapat dijadikan sebagai senjata untuk menyerang. Menyoroti hal tersebut, Wakil Menteri Luar Negeri RI merekomendasikan enam perisai ketahanan strategis. Pertama, mengaudit ketergantungan kritis nasional dengan memetakan konsentrasi pemasok, jalur, dan mata uang setiap tahun. Kedua, diversifikasi tanpa decoupling yang artinya mencari mitra yang baru tanpa meninggalkan mitra yang lama. Ketiga, membangun penyangga dan simpul alternatif melalui cadangan energi, pangan, rute alternatif, dan back up pembayaran. Keempat, mengubah sumber daya menjadi kemampuan dengan melahirkan teknologi dan keterampilan melalui hilirisasi. “Sumber daya harus menjadi power, potensi kalau tidak dikerjakan hanya akan menjadi potensi. Kelima, menjadikan ASEAN sebagai platform geoekonomi melalui percepatan konektivitas dan respons krisis. Keenam, mengamankan stack digital dan kognitif mulai dari data dan cip sampai literasi AI dan komunikasi krisis.
Mengakhiri kuliah umumnya, Wakil Menteri Luar Negeri RI menegaskan bahwa saat ini negara dihadapkan pada perubahan cara kerja. Kini yang dihadapi bukan satu krisis, melainkan satu simpul. Kemampuan ketahanan suatu negara adalah bagaimana tetap bisa terkoneksi dan tetap kuat walau dibekukan dari satu simpul. “Satu kondisi yang baru terjadi di dunia yang memerlukan suatu assessment yang lebih tajam, lebih mendalam, kalau kita ingin melihat anatomi persoalan dunia dan juga bagaimana kita melakukan upaya untuk mengantisipasi dan mengatasinya,” pungkas Wakil Menteri Luar Negeri. (NA/CHP)

